Part I
Sore
itu masih gerimis tapi Jane tak mau masuk ke kontrakannya, dia menatap tajam ke
jendela depan rumahnya yang dingin, berembun, sepi. Seolah benda itu menatapnya
balik dan menantangnya dengan dua pilihan pergi atau masuk. Rumah yang nampak
sederhana itu di matanya lebih ramai daripada kota tersibuk sekalipun, tak
digubrisnya hawa dingin pegunungan yang kian menusuk rumah itu sudah membiusnya
untuk menentukan untuk pergi atau tinggal, yang artinya juga nyawa nya harus
pergi atau tinggal.
1 tahun yang lalu .............
"Jane aku berangkat dulu ya" teriak Loui teman sekantornya.
"Jane aku berangkat dulu ya" teriak Loui teman sekantornya.
"Ya jangan taruh cangkir di mejaku lagi" balas Jane dengan muka kecut
"Sampai kapan aku bekerja dengan jam yang mencekik seperti ini ?" umpat Jane.
Jane yang bisanya terkesan santai dalam bekerja hari ini banyak mengeluh, mungkin sudah saatnya membuka mata pada keadaannya yang memang sulit walau dia berusaha berpikir positif.. Ya Jane seorang wanita karier yang tergolong masih muda, namun wataknya sangatlah bertentangan dengan kebanyakan wanita karir bahkan wanita biasa. Dia mempunyai hobi yang aneh yaitu mengoleksi koran yang sudah lama terbit, tentu buka untuk membungkus barang namun dia hanya mengoleksinya layaknya buku perpustakaan . Teman seasramanya waktu kuliah dulu pertama kalinya juga heran bahwa mengaggapnya kurang waras karena koran yang dikoleksinya tak jarang juga didapat dari tempat sampah. Di mata Jane koran-koran itu lebih dari sekedar teman untuknya. Dari dulu Jane kecil bercita-cita menjadi jurnalis, sebuah ketidak adilan di tempatnya tinggal mendorong dia ingin menjadi penyebar wacana tersebut. Jane lahir di sebuah kota kecil lebih tepatnya desa yang sedikit maju, tak banyak orang tahu dan mau tahu kehidupan masyarakat disana. Kota Rolley di tempat Jane lahir itu para pemudanya lebih memilih meninggalkan kota dan tak kembali lagi, bagi mereka hidup disana sangatlah membosankan tak banyak yang harus dikerjakan selain memperbaiki rumah-rumah tua yang diwariskan pada mereka. Tradisi di kota Rolley salah satunya melarang penduduknya membangun rumah baru bagi generasi baru di keluarga mereka jika rumah tak lagi muat untuk semua anggota keluarga maka salah satu orang harus pergi membangun rumah di kota lain. Nasib itu juga menimpa Jane dia harus pindah bersama bibinya ketika rumah tua mereka sudah sesak dengan anak-anak pamannya, namun sebenarnya hal itu yang membuat Jane masih hidup sampai dia mampu berkarir. Ya ada tradisi kelam di kota Rolley yang sangat tabu untuk dibicarakan, bahkan pemerintah pusat secara halus tak ingin menyentuh daerah bernama Rolley.
..........
"Wah, akhirnya aku punya waktu buat hidup" teriak Jane
Jane serasa merdeka dengan pekerjaan yang membelenggunya, namun percayalah saat itu sisi sebenarnya dalam kehidupan yang tak pernah jelas akan terungkap. Tak terasa Jane sudah cukup lama menyibukkan diri mulai dari mengemasi pakaian liburannya sampai mencari informasi kota tujuan, semua kota-kota besar yang terkenal akan glamornya sudah tentu membuat bosan seseorang seperti Jane. Satu kota yang membuatnya tertarik adalah Doorwise karena lokasinya yang dekat dengan kampung halamannnya kota Rolley, tepatnya di sebelah timur kota Rolley.
Tak seperti kota Rolley yang terkesan sepi Doorwise merupakan kota persinggahan para pelancong yang bepergian antar kota sebenarnya Doorwise lebih tepat disebut kumpulan bar dan penginapan karena sangat ramai tempat itu disebut dengan kota. Tepat pukul 10.00 AM Jane mulai berangkat dengan mobil VW nya, melewati batas kota menuju Doorwise jalanan agak macet hingga 2 jam Jane harus melewatinya setelah itu jalanan mulai lancar namun hal yang seharusnya mengherankan tak digubris Jane yaitu tak ada kendaraanpun yang melintas sejak melewati batas kota walau ada beberapa orang yang berjalan kaki.
Jane terus menggeber mobilnya hingga sampai di kota Doorwise, perbatasan Doorwise tak seperti kota lain dan yang membuatnya istimewa terdapat terowongan besar sebelum masuk kota inilah mengapa kotanya disebut Doorwise.
"Cih...apa ini benar-benar Doorwise atau aku yang tersesat ?, sepi sekali disini " umpat Jane
Mata Jane tak sengaja melihat ke tanah, aneh seperti banyak jejak sepatu dan bekas ban mobil melintas tapi tak ada orang di Doorwise. Wanita karir itu tak mau ambil pusing karena sudah tanggung untuk kembali, ia mengemudi pelan-pelan masuk Doorwise sambil tengak-tengok mencari seseorang untuk ditanya. Samar-samar di kejauhan ada orang sedang melambaikan tangan seperti meminta tumpangan setelah diddekati ternyata benar, seorang lelaki paruh baya terluka cukup parah sedang meminta bantuan.
"Tolong nak, beri aku tumpangan dan pergi dari sini..!" teriak lelaki itu
"Ada apa, apa yang terjadi ?" tanya Jane basa-basi walau dia agak ketakutan
Lelaki itu langsung membuka pintu mobil Jane dan membentak "Cepat bodoh apa kau mau mati disini ?!" geram pria itu
Jane gemetaran dan memutar balik mobilnya menuju kota tempatnya tinggal, tapi lelaki itu mencegahnya.
"Jangan lewat sana, kita ke barat menuju Rolley..." perintah lelaki itu
"Ok, jangan membentak lagi....." umpat Jane masih gemetaran
Mereka pun menuju Rolley, jarak antara Rolley dan Doorwise lumayan jauh Jane masih penasaran dan mulai mengintrogasi lelaki itu.
"Um, apa yang terjadi disana mengapa kau terluka dan ketakutan sekali....?" tanya Jane
"Terus saja menyetir, setelah sampai Rolley kujawab semua pertanyaanmu " jawab lelaki itu
"Setidaknya perkenalkan namamu, aku Jane" sapa Jane
"Aku Rick, apa yang kau lakukan di Doorwise " tanya Rick
"Aku hanya berlibur dan baru saja sampai, hingga keanehan ini terjadi" jawab Jane
"Kau serius......? Berlibur huh.....?" ejek Rick dengan nada sedikit kesal
Hampir jam 9 malam mereka sudah sampai ke perbatasan Rolley dan seperti biasa suasana kota Rolley memang lengang. Rick menyuruh Jane untuk pegi ke Rumah Sakit terdekat Jane hanya menuruti karena masih terguncang dan penasaran dengan kejadian di Doorwise.
Sampailah mereka di Rumah Sakit kota Rolley, Rick pun dirawat dan untungnya lukanya tidaklah parah. Jane ingat akan maksudnya untuk beertanya pada Rick.
"Hai sudah baikan ? Aku ingin tanya lagi tentang Doorwise...." kata Jane menyelidik
"Waktu itu aku sedang memperbaiki pipa di ruang bawah tanah, aku salah satu pemilik penginapan di Doorwise kami sekeluarga tinggal berempat. Seperti biasa Doorwise saat itu, tiga hari yang lalu sangat ramai pengunjung tapi kami melupakan sesuatu yang sebaiknya kami kehilangan kepala daripada melupakan hal itu" kata Rick dengan mata memerah
"Hal apa... coba katakan...." balas Jane penasaran
"Kami warga Doorwise dahulu merupakan komunitas kecil yang tak mempercayai orang asing, dan kami punya aturan yang disebut " Day "


0 comments:
Post a Comment